Friday, July 7, 2017

Hubungan antara preeklamsi berat dengan BBLR di RS



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dapat mempengaruhi tingkat kesehatan suatu negara. Angka Kematian Ibu (AKI) kejadian masih tinggi, menurut WHO AKI di dunia pada tahun 2010 sangat bervariasi yaitu sebesar 218 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu  perdarahan, komplikasi saat persalinan, infeksi, dan preeklamsia. Menurut MDG’s 2015 target  AKI pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu perlu upaya peningkatan upaya kesehatan untuk menurunkan AKI. Salah satu faktor penyebab AKI adalah preeklamsi pada  ibu. Komplikasi pada ibu yang mengalami preeklamsia salah satunya mengakibatkan terjadinya kematian perinatal (Maryunani, 2009).
Kematian perinatal akibat komplikasi preeklampsia di negara maju lebih rendah dibandingkan dengan negara berkembang. Di Negara berkembang dilaporkan  bahwa berkisar antara 42,2 % sampai dengan 50 % sebab kematian perinatal karena komplikasi pre eklampsia dikarenakan terjadinya hipoksia intra interin dan prematuritas. Penyebab kematian perinatal paling utama adalah karena trias asfiksia 49% - 69%,infeksi 24%34%, prematuritas dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) 15%-20% (Manuaba,2010).
Sampai sekarang Angka Kematian Bayi  (AKB) di Negara maju masuih sangat tinggi  salah satu penyumbang Angka Kematian Bayi (BBLR) adalah kelahiran berat badan rendah (BBLR). Menurut data WHO (2012), berdasarkan total kelahiran di dunia, terdapat 15,5% kelahiran dengan BBLR. Kelahiran dengan BBLR dua kali lebih banyak di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju, dengan sebanyak 72% terjadi di Asia. Data BBLR di sebesar 10,2% tahun 2013. Provinsi Lampung angka kejadian BBLR sebesar 7,3% (Riskesdas, 2013), salah satu faktor penyebab berat badan lahir rendah (BBLR) adalah ibu yang hamil di usia lebih dari 35 tahun dan ibu yang mengalami hipertensi sebelum hamil atau sesudah hamil dan ibu yang mengalami preeklamsia, dampak akibat dengan tingginya angka preeklamsi akan meningkatkan angka kematian pada ibu.
Data Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia juga masih tinggi adalah 228/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Data (AKI) di Povinsi Lampung  Dimana salah satu faktor penyebab meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI) adalah peeklamsia dan angka kejadian preeklamsi di Lampung pada tahun 2012 sebanyak 41,3% (Wordpress, 2012).
Perlu upaya pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) pemerinth telah melakukan  Kebijakan pelayanan kesehatan. Salah satunya Peningkatan cakupan kualitas (Supply side) berupa Ante Natal Care (ANC), pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali) supaya terdiktesi komplikasi dalam kehamilan, memberikan kebijakan persalinan gratis supaya meringankan masyarakat yang kurang mampu dan dapat melahirkan  pada tenaga kesehatan, melakukan kunjungan nifas, penanganan komplikasi (SDKI 2012)
Penelitian yang dilakukan oleh Kun Ika dengan ibu preeklamsi dengan kejadian BBLR di RSUD Kota Kediri tahun 2009 dan didapatkan hasil p value sebesar (0,000). Hal ini dapat disimpulkan terdapat hubungan antara ibu preeklamsi dengan kejadian BBLR. Hal ini dikarenakan ibu preeklamsi akan berpengaruh terhadap diet ibu itu sendiri, sehingga akan menurunkan jumlah konsumsi makanan akibat asupan nutrisi inilah yang mengakibatkan terjadinya BBLR terhadap ibu preeklamsi.
Penelitian Yuni Asih (2006) menyebutkan bahwa primigravida yang menderita Preeklampsia dan melahirkan bayi dengan BBLR sebanyak 51,9 %, dan yang tidak melahirkan bayi dengan BBLR sebanyak 40,9%. Uji Chi Square menunjukan adanya hubungan antara Preeklampsia pada primigravida dengan kejadian BBLR (p< 0,05).
Penelitian lain yang dilakukan oleh Leni Kurniati (2011) dengan judul Hubungan Pre Eklampsia Dengan Kelahiran Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Di RSUD Sragen didapatkan hasil terdapat hubungan yang signifikan antara pre eklampsia dengan kelahiran berat bayi lahir rendah, dimana hasil Chi square didapatkan Nilai X 2 hitung > X 2 tabel (5,906 > 3,847) berati H0 ditolak dan H1 diterima dengan risiko prevalensi3,25 > 1, artinya Pre Eklampsia mempunyai ririko lebih tinggi terjadinya kelahiran BBLR 3, 25 kali lebih banyak daripada tanpa Pre Eklampsia .
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat inkonsistensi peneliti,karena ketidak konsistensian maka peneliti tertarik untuk melakukan penetian kembali untuk ,,mengkuan firmasi hasil.
            Dimana berdasarkan pre survey yang telah dilakukan pada tanggal 27 februari 2014, didapatkan prevalensi kejadian BBLR di RS. A. Dadi Thokrodipo banyak ditemukan 204 dari 1134 bayi baru lahir, banyak faktor penyebab terjadinya BBLR salah satunya preeklamsi, oleh karena itu peneliti mengambil judul “hubungan antara preeklamsi berat dengan BBLR di RS A. Dadi Tjokrodipo Tahun 2013”

B.  Rumusan Masalah
Kematian perinatal akibat komplikasi preeklampsia di negara maju lebih rendah dibandingkan dengan negara berkembang. Di Negara berkembang dilaporkan  bahwa berkisar antara 42,2 % sampai dengan 50 % sebab kematian perinatal karena komplikasi preeklampsi, akibat dari dampak preeklamsi seperti BBLR. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kun Ika, Yuni Asih dan Leni Kurniati disimpulkan ada hubungan preeklamsia dengan kejadian berat badan bayi rendah (BBLR), maka peneliti tertarik untuk meneliti kembali adakah “hubungan preeklamsia dengan kejadian BBLR “ di RSUD A. Dadi Tjokrodipo Tahun 2013”.

C.  Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara preeklamsi dengan BBLR di RSUD A. Dadi Tjokrodipo Tahun 2013.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui frekuensi kejadian preeklamsi di RSUD A. Dadi Tjokrodipo Tahun 2013
b.    Untuk mengetahui frekuensi kejadian BBLR di RSUD A. Dadi Tjokrodipo Tahun 2013
c.    Untuk mengetahui antara preeklamsi dengan BBLR di RSUD A. Dadi Tjokrodipo Tahun 2013

D.  Ruang Lingkup
Luasnya masalah dilihat dari berbgai aspek,maka penulis ingin membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1.         Variabel penelitian      : Preeklamsi Dan  BBLR
2.         Populasi penelitian      : Semua ibu yang melahirkan BBLR degan 
preeklamsia di RSUD A. Dadi Tjokrodipo tahun  
2013
3.         Lokasi penelitian         : Ruang Kebidanan RSUD A. Dadi   Tjokrodipo
  Provinsi Lampung
4.         Waktu penelitian         : April-Mei 2014

E.  Manfaat Penelitian
1.    Bagi Ilmu Pengetahuan
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai pembuktian teori bahwa terdapat hubungan preeklamsi  dengan BBLR.

2.    Bagi Pengguna
a.    Bagi Bidan RSUD A. Dadi   Tjokrodipo Provinsi Lampung
Diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya bagi bidan, agar dapat dengan sigap memberikan pencegahan preeklamsi dan penatalaksanaan yang tepat dengan ibu preeklamsi.
b.    Bagi Ibu Hamil
Menambah informasi dan wawasan kepada ibu hamil khususnya tentang preeklamsi dan bayi berat badan rendah (BBLR).
c.    Bagi mahasiswa STIKes Muhammadiyah Pringsewu Lampung
Penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan bacaan atau referensi, dan dapat menambah ilmu pengetahuan sehingga diharapkan dapat dijadikan sumber pengetahuan dan pengalaman.










Thursday, July 6, 2017

Hubungan Pendamping Persalinan Dengan Lama Kala II

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu( AKI) dari World Health Organization (WHO) adalah sebagai berikut; kurang 15 per 100.000 kelahiran hidup; 15 -199 per 100.000 kelahiran Perbandingan Indonesia dengan negara anggota Asean dan Sear  261 hidup; 200-499 per 100.000 kelahiran hidup; 500-999 per 100.000 kelahiran hidup; dan sama dengan atau lebih 1.000 per kelahiran hidup. Pada tahun 2011 di kawasan ASEAN hanya Singapura yang memiliki angka kematian Ibu rendah, yakni mencapai AKI kurang dari 15 yaitu 3 per 100.000 kelahiran hidup. Ada 5 negara memiliki AKI 15-199 per 100.000 kelahiran hidup, yakni: Brunei Darussalam (24), Filipina (99), Malaysia (29), Vietnam (59), dan Thailand (48) serta 4 negara memiliki AKI 200-499 per 100.000 kelahiran hidup, termasuk Indonesia.Laos merupakan negara denganAKI tertinggi di ASEAN dengan angka 470 per 100.000 kelahiran hidup.AKI di Indonesia mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam (59/100.000), dan Cina (37/100.000). Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan AKI tertinggi asia, tertinggi ke-3 di kawasan ASEAN dan ke-2 tertinggi di kawasan SEAR.
Klasifikasi AKI dari WHO bisa dilihat bahwa derajat kesehatan di Indonesia  masih  sangat   buruk,terlihat  dari  AKI  yang masih  tinggi  dan menempati urutan ke 3 di kawasan ASEAN. Myanmar merupakan negara yang memiliki AKB tertinggi di kawasanASEAN dengan angka 47,9 per 1.000 kelahiran hidup. Empat negara termasuk Indonesiadiantara Filipina, Laosdan Kamboja termasukkelompok sedang.Sedangkan ke limanegara lainnya yaituSingapura, Malaysia,Brunei Darussalam,Thailand dan Vietnamtermasuk  Negara dengan AKIrendah. Dari 10negara anggota ASEAN,tidak ada yang masukdalam kelompok AKI sangattinggi (>100 per 1.000kelahiran hidup). Menurut The UN-Interagency Group for Child Mortality Estimates(IGME), Tahun 2011,AKI yang dimiliki Indonesia adalah 24,8 kematian per 1.000 kelahiranhidup pada 2011. Meski AKI di Indonesia terus menurun tiap tahun  AKI di Negara Asean dan SEAR tahun 2011 meningkat.
Profil Kesehatan Indonesia 2012 258 namun tingkat kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkandengan negara-negara anggota ASEAN, yaitu 4,2 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,2 kali lebih tinggi dari Filipina, dan 2,2 kali lebih tinggi dari Thailand.Dari data di atas ternyata Indonesia juga  termasuk  penyumbang  AKB terbesar di kawasan ASEAN.
Negara-negara dengan tingkat kematian bayi diatas 100 mempunyai angka rata-rata tingkat fertilitas 6,2 anak. Hal ini mengindikasikan bahwa negara-negara yang mempunyai tingkat kematian bayi yang tinggi mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk tercepatdi dunia. Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 3 negara di SEAR, yaitu Maladewa, Thailand,dan Sri Lanka masuk dalam kategori negara dengan AKI rendah denganangka 9, 11 dan 11 per 1.000 kelahiran hidup. Tujuh negara masuk kategori sedang dansatu negara (Myanmar) masuk kategori tinggi.
Besaran AKI di negara-negara ASEAN dan SEAR berkisar antara 2 dan50. Singapura merupakan negara  dengan AKB terendah, yaitu 2 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB tertinggi di Myanmar, yaitu sebesar 48 per 1.000 kelahiran hidup. Indonesia memiliki Angka Kematian Bayi 37 per 1.000 kelahiran hidup dan berada diperingkat 10 terendah di antara 18 negara tersebut. Data WHO 2003, AKB di Indonesia sebagian besar terkait dengan faktor nutrisi yaitu sebesar 53 persen. Beberapa penyakit yangtimbul akibat malnutrisi antara lain pneumonia (20%), diare (15%), dan perinatal (23%).AKB diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika AKB kurang dari 20; sedang 20-49; tinggi 50-99; dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per1.000 kelahiran hidup.
Di Lihat dari angka kematian, latar belakang kematian maternal adalah perdarahan obtetrik(24,8%), infeksi (14,9%), eklampsia (12,9%), partus tidak maju/distosia (6,9%), abortus yang idak aman (12,9%), dan sebab-sebab langsung lain (7,9%). AKB di Provinsi Lampung berdasarkan hasil survey dalam hal ini SDKI yang dilakukan setiap lima tahun. Di provinsi Lampung berdasarkan Survey  Demografi  Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002 – 2012 trendnya  menunjukkan kecenderungan menurun yaitu dari 55 per 1000 kelahiran hidup tahun 2002 menjadi 30 per 1000 Kelahiran Hidup tahun 2012. Angka ini bila dibandingkan dengan target dari MDGs tahun 2015 sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup maka masih perlu kerja keras untuk mencapainya.
Kematian bayi terbesar terjadi pada masa bayi perinatal (0-6 hari),diikuti kematian pada masa bayi neonatal (7 – 28 hari) dan masa bayi (>28 hari kurang dari1 tahun). Penyebab kematian bayi perinatal dan neonatal di Provinsi Lampung tahun 2012 pada dua terbesar disebabkan oleh BBLR dan Asfiksia.
Berdasarkan laporan per Kabupaten, kota se-Provinsi Lampung tahun 2012, angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup per kabupaten kota se-provinsi Lampung tahun 2012: l). Lampung Barat 12,;2). Tanggamus 68,;3). Lampung Selatan 54,;4). Lampung Timur 47,5). Lampung Tengah 17;6 Lampung Utara 69,;7). Way Kanan 29,;8). Tulang Bawang 66,;9). Pesawaran 37,; 10). Pringsewu 51,;11). Mesuji 30,;12).Tulang Bawang Barat 27,;13), Bandar Lampung 169,; dan 14) Metro 16. Dari data di atas kasus kematian bayi  terbesar ada di kota Bandar Lampung yaitu 169 kasus kematian bayi .
AKI yang dihasilkan dari SDKI dan SKRT hanya menggambarkan angkanasional, tidak dirancang untuk mengukur angka kematian ibu menurut Provinsi (karena memerlukan sampel & biaya yang sangat besar).Angka Kematian Ibusampai saat ini baru diperoleh dari survey-survey terbatas.AKI selama tahun1997 – 2007 cenderung menurun dimana dari 370 per 100.000 kelahiran hidupmenjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2007.
Angka Kematian Ibu (AKI) berdasarkan laporan dari Kabupaten kota
tahun 2012 sebesar 115,8 per 100.000 Kelahiran Hidup, namun angka ini tidak dapat dipergunakan karena angka tidak menggambarkan seluruh kematian ibuyang ada di populasi (data hanya dari fasilitas kesehatan saja). Sehingga tetap mempergunakan data dari hasil survey dalam hal ini SDKI yang dilakukan setiaplima tahun sekali.
Bila dilihat berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012 berdasarkan laporan dari kabupaten terlihat bahwa kasus kematian ibu(kematian ibu pada saat hamil, saat melahirkan dan nifas) seluruhnya sebanya AKI berdasarkan laporan dari Kabupaten kotatahun 2012 sebesar 115,8 per 100.000 kelahiran hidup, namun angka ini tidakdapat dipergunakan karena angka tidak menggambarkan seluruh kematian ibu yang ada di populasi (data hanya dari fasilitas kesehatan saja). Sehingga tetap mempergunakan data dari hasil survey dalam hal ini SDKI yang dilakukan setiap lima tahun sekali.      Bila dilihat berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012 berdasarkan laporan dari kabupaten terlihat bahwa kasus kematian ibu (kematian ibu pada saat hamil, saat melahirkan dan nifas) seluruhnya sebanyak 179 kasus dimana kasus kematian ibu terbesar ( 59,78% ) terjadi pada saat persalinan dan 70,95% terjadi pada usia 20 – 34 tahun.Penyebab kasus kematian ibu di Provinsi lampung tahun 2012 disebabkanoleh perdarahan, eklamsi, infeksi dan lain-lain (Kemenkes, 2012).
Hasil laporan dari kabupaten se-Provinsi Lampung tahun 2012 kasus kematian ibu tertinggi ada di Kota Bandar Lampung. Ternyata penyebab kematian maternal yang paling tinggi adalah disebabkan karena perdarahan obstetric. Perdarahan banyak terjadi akibat persalinan lama,atau sering disebut “distosia”, di definisikan persalinan abnormal atau sulit (Prawirohardjo, 2010).
Perdarahan biasanya terjadi pada persalinan lama,dan persalinan lama juga bisa disebabkan karena keadaan fisik ibu yang sudah lama meneran, atau cara meneran yang berlebihan, sehingga menyebabkan ibu sulit bernafas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu,ada kalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala II. Berikan rasa aman dan semangat serta tentramkan hatinyaselama proses persalinan berlangsung. Dukungan dan perhatian akan mengurangi rasa tegang,membantu kelancaran proses prsalinan dan kelahiran bayi. Dukungan dari suami, orang tua , dan keraba yang disukai ibu sangat dipelukan dalam menjalani proses persalinan. Adapun factor penyebab persalinan lama adalah usia ibu, paritas, dukungan orang terdekat, psikis ibu saat persalinan (JNPK-KR, 2008).
Dalam hal ini,pendamping persalinan cukup berpengaruh dengan proses persalinan,khususnya pada lama kala II. Karena kelahiran merupakan proses fisiologis yang diwarnai komponen psikologis. Dengan menghindarkan atau mengurangi stress psikologis ibu dan meningkatkan rasa sejahtera bagi ibu, dapat mendorong proses fisiologis persalinan sehingga terjadi kemajuan persalinan (Sari, 2010). Berdasarkan penelitian Novita Sari tahun 2010 di RB Ann-Nisa Surakarta, ternyata seorang pendamping persalinan berpengaruh terhadap lama kala II.
Menurut Wiknjosastro (2005) batasan lama persalinan normal kala II pada primigravida berlangsung kira-kira 1,5 jam dan pada multigravida berlangsung kira-kira 0,5 jam (Sari, 2010).
Berdasarkan data-data diatas, maka sentral dari latar belakang penelitian ini adalah terjadinya penurunan AKB di dunia pada tahun 2007 dibandingkan dengan 2012. AKI dan AKB di Indonesia juga masih cukup tinggi, peringkat ke 5. Perdarahan merupakan salah satu factor penyumbang AKI di dunia. Perdarahan juga terjadi disebabkan beberapa hal, salah satunya yaitu kala II lama, kala II lama terjadi karena beberapa factor diantaranya keadaan fisik dan psikologi ibu. Psikologi ibu dapat dipengaruhi karena pendamping persalinan, karena adanya pendamping persalinan dapat mempengaruhi kekuatan ibu meneran.
Hasil pra survey yang dilakukan oleh peneliti di BPS Fika Saumi, S.ST, didapatkan persalinan lama kala II disebabkan karena tidak adanya pendamping saat ibu bersalin, dari hal tersebut maka peneliti mengambil judul “Hubungan Pendamping Persalinan Dengan Lama Kala II di BPS Fika Saumi, S.ST Tahun 2011-2013”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan suatu masalah yaitu: “Menganalisis Hubungan Pendamping Persalinan Dengan Lama Kala II di BPS Fika Saumi, S.ST Tahun 2011-2013?”

C.    Tujuan Penelitian
            1.      Tujuan Umum
            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  Hubungan Pendamping Persalinan Dengan Lama Kala II di di BPS Fika Saumi, S.ST Tahun 2011-2013.

             2.      Tujuan Khusus
a.       Menghitung distribusi frekuensipendamping ibu bersalin
b.      Menghitung distribusi frekuensi kejadian lama kala II
c.       Membandingkan Risk Ratio (RR) antara kelompok pendamping persalinan suami dan bukan suami dengan lama kala II.

D.    Ruang Lingkup Penelitian
        Adapun yang menjadi ruang lingkup dari penelitian hubungan pendamping persalinan dengan lama kala II adalah Jenis penelitian menggunakan deskriptif analitik, variabel penelitian Pendamping Persalinan Dengan Lama  Kala II, objek penelitian adalah semua ibu bersalin, lokasi penelitian  dilaksanakan di BPS Fika Saumi, S.ST pada bulan Februari-Juni 2014.

E.     Manfaat Penelitian
            1.      Bagi Peneliti
            Sebagai salah satu syarat dalam rangka menyusun tugas akhir pendidikan Diploma III Kebidanan STIKes Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
            2.      Bagi Tempat Penelitian
            Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi bidan dalam pelayanan kesehatan, khususnya ibu bersalin dengan pendampingan persalinan
            3.      Bagi Institusi
            Hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai bahan masukan dan sebagai bahan perbandingan bagi mahasiswi program study Diploma III Kebidanan STIKes Muhammadiyah Pringsewu.
           4.      Bagi Responden
            Diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi ibu bersalin untuk mengajak seseorang dalam persalinan.

Wednesday, July 5, 2017

Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Keputihan Patologi



BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan secara obyektif dengan menghubungkan suatu kejadian dari nilai yang bisa diambil dan menyimpulkan secara kuantitatif.
Desain dalam penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu metode penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor – faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010).

B.       Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapat atau satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat).
1. Variabel Independen   : Tingkat pengetahuan menjaga kebersihan
                                           genetalia eksterna.
2. Variabel Dependen      : Kejadian keputihan patologi.

C.      Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan             ( Notoatmodjo, 2010).
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel
Definisi Operasional
Hasil Ukur
Alat ukur
Skala Ukur
Independen
Variabel



Pengetahuan tentang kebersihan genetalia
Kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kebersihan genetalia eksterna.
Kategori :
0 = Kurang <56%
1 = cukup 56 – 75%
2 = Baik 76 – 100%

Kuesioner
Ordinal
Dependen
Variabel



Keputihan patologi
Peristiwa keluarnya cairan putih kekuningan, berbau dan gatal yang keluar dari liang vagina yang berlebihan
Kejadian keputihan patologi
0 = Tidak keputihan
1 = keputihan
Kuesioner
Nominal

D.      Populasi dan sampel
1.         Populasi
          Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek/objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswi SMA Negeri 1 Bulok Pardasuka tahun 2013 dengan jumlah siswi 185  siswi.
2.         Sampel
          Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel, (Sugiyono, 2010). Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana.
              n = N/ 1 + N (d)2
            Keterangan :
            n : jumlah sampel
            N : jumlah populasi
            d : derajat ketetapan (d = 0,05)
           
 Jadi, jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 126.

Kriteria sampel :
a.    Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat, 2009). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
Dengan kriteria sebagai berikut :
1)   Siswi kelas X dan XI di SMA Negeri I Bulok Pardasuka
2)   Bersedia menjadi responden
b.    Kriteria eksklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Hidayat, 2009). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1)   Bukan siswi kelas X dan XI di SMA Negeri I Bulok Pardasuka
2)   Tidak bersedia menjadi reponden

E.       Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian akan dilakukan di SMA Negeri 1 Bulok Pardasuka dan dilaksanakan pada bulan Februari – Juni di SMA Negeri 1 Bulok Pardasuka tahun 2013.

F.       Etika Penelitian
Etika penelitian artinya hak subjek penelitian dan yang lainnya harus dilindungi (Nursalam, 2008). Beberapa prinsip dalam pertimbangan etik meliputi : bebas eksplorasi, kerahasiaan, bebas dari penderita, bebas menolak menjadi responden, dan perlu surat persetujuan (informed consent).
1.      Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Lembar persetujuan ini akan diberikan kepada setiap responden yang menjadi subjek penelitian dengan memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penelitian serta menjelaskan akibat – akibat yang akan terjadi bila bersedia menjadi subjek penelitian. Apabila responden tidak bersedia maka peneliti wajib menghormati hak – hak pasien tersebut (Nursalam, 2008).
Penelitian yang baik, mempertimbangkan aspek etika dalam pelaksanaannya, dimana perlindungan terhadap subjek penelitian dan menghargai hak – hak subjek merupakan hal yang mutlak dilakukan.
2.      Anonymity (Tanpa Nama)
Anonymity adlah tindakan merahasiakan nama peserta terkait dengan partisipasi mereka dalam suatu objek riset (Arikunto, 2006). Pada penelitian ini kerahasiaan identitas subjek sangat diutamakan, sehingga peneliti sengaja tidak mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data.
3.      Confidentiality (Kerahasiaan)
Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Alimul, 2009). Penulis melindungi privasi dan kerahasiaan identitas atau jawaban yang diberikan. Subjek berhak untuk tidak mencantumkan identitasnya dan berhak mengetahui kepada siapa saja data tersebut disebarluaskan.
4.      Respect for justice an inclusiveness (keadilan dan keterbukaan)
Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan kejujuran, keterbukaan dan kehati – hatian. Untuk itu lingkungan penelitian perlu dikondisikan sehingga memenuhi prinsip keterbukaan, yakni dengan menjelaskan prosedur penelitian. Prinsip keadilan ini menjamin bahwa semua subjek penelitian memperoleh perlakuan dan keuntungan yang sama, tanpa membedakan gender, agama, etnis dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).
5.      Balancing harm and benefits (memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan)
Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin bagi masyarakat pada umumnya dan subjek penelitian pada khususnya. Peneliti hendaknya berusaha meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subjek. Oleh sebab itu, pelaksanaan penelitian harus dapat mencegah atau paling tidak mengurangi rasa sakit, cidera, stress maupun kematian subjek (Notoatmodjo, 2010).

G.      Instrumen dan Metode Pengumpulan Data
1.         Instrumen Penelitian
          Instrumen atau alat pengumpul data adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dlaam suatu penelitian (Abd Nasir, 2007). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang kebersihan genetalia eksterna yang berhubungan dengan kejadian keputihan patologi. Pada bagian ini berisi 15 pertanyaan untuk tingkat pengetahuan tentang menjaga kebersihan genetalia eksterna dan 7 pernyataan untuk kejadian keputihan yang dialami remaja putri. Responden menjawab pertanyaan dengan memilih salah satu alternative jawaban yang dianggap benar.

2.         Metode Pengumpulan Data
          Metode/cara pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti menggunakan angket/kuesioner, yaitu variabel dependen : kejadian keputihan patologi serta variabel independen : tingkat pengetahuan menjaga kebersihan genetalia eksterna, yang secara langsung diisi oleh responden. Kemudian peneliti mengumpulkan data yang sudah selesai diisi oleh responden pada hari itu juga (Notoatmodjo, 2010). Untuk mengetahui baik tidaknya instrumen yang dibuat maka peneliti akan melakukan uji validitas dan uji realibilitas.

a.       Uji Validitas
Validitas adalah suatu indek yang menunjukkan alat ukur benar – benar apa yang diukur (Notoatmodjo, 2010).
Uji validitas instrumen dapat dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment. 
Keputusan uji dengan melihat :
Bila r hitung ≥ r table maka Ho ditolak, artinya variable valid.
Bila r hitung < r table maka Ho gagal ditolak, artinya variable tidak valid (Notoatmodjo, 2010).
Dilakukan uji validitas di SMA Yasmida Ambarawa dengan jumlah responden 25 siswi, dengan r tabel 0,381. Interprestasinya : bila r hitung > r table maka pertanyaan tersebut valid.

b.         Reliabilitas
Realibilitas adalah indeks yang menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmodjo, 2010). Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap sama bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama. Menurut Arikunto Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan rumus K-R 20.

H.      Metode Pengolahan Data dan Analisis Data
1.         Metode pengolahan data
Menurut Notoatmodjo, 2010 data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan dengan langkah – langkah sebagai berikut :
a.       Editing
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir, atau lembar kuesioner apakah jawaban yang ada sudah lengkap, jelas relevan dan konsisten.
b.      Coding
Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan. Kegunaan coding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat saat entry data.
Tingkat pengetahuan
Baik (76 – 100)   = 2
Cukup (56 – 75)  = 1
Kurang (<56)      = 0
Kejadian keputihan patologi :
Yamg tidak mengalami keputihan patologi = 0
Yang mengalami keputihan patologi = 1
c.       Scoring
Tahap ini dilakukan setelah ditetapkan kode jawaban atau hasil observasi sehingga setiap jawaban responden atau hasil observasi dapat diberikan skor.
d.      Entering
Merupakan tahap memasukkan data yang telah di editing dan dicoding sesuai dengan hasil ukur.
e.       Cleaning
Tahap pemeriksaan kembali seluruh data yang telah di entry agar dapat memperbaiki kesalahan – kesalahan pemasukan data.
f.       Tabulating
Yaitu mengelompokkan data sesuai variabel yang diteliti guna memudahkan dalam menganalisis data.

2.         Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.       Analisis Univariat
Analisis Univariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Umumnya hasil analisis ini menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010).
Analisis umivariat dalam penelitian ini yaitu untuk menghasilkan distribusi atau presentase tingkat pengetahuan remaja putri tentang kebersihan genetalia dan distribusi atau presentase keputihan patologi.
b.      Analisis Bivariat
Analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Untuk menguji variabel bebas dan variabel terikat dapat dilakukan dengan uji statistik chi-square .  Dengan batasan α (alpha) = 5% dan dengan tingkat kepercayaan 95%.
1)      p value ≤ 0,05 H0 ditolak dan Ha diterima, maka hubungan kedua variabel signifikan.
2)      p value > 0,05 H0 diterima dan Ha ditolak, maka hubungan kedua variabel tidak signifikan (Hastono,`2007).
Analisis bivariat dalam penelitian ini yaitu menghubungkan antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang menjaga kebersihan genetalia eksterna dengan kejadian keputihan patologi.

I.         Jalannya Penelitian
Jalannya penelitian ini mengikuti alur sebagaimana yang telah ditetapkan oleh institusi Stikes Muhammadiyah Pringsewu dan SMA Negeri 1 Bulok Pardasuka yaitu :
1.      Pengajuan judul kepada pembimbing
2.      Survey pendahuluan dan penyusunan proposal penelitian
3.      Pengajuan surat permohonan penelitian
4.      Pelaksanaan penelitian
5.      Pengolahan dan analisa data 
6.   Penyusunan laporan hasil.